Sidoarjo | Radar-today – Penggunaan kendaraan listrik di Jatim terus bertambah, hal ini menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Kondisi itu mendorong PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur memperluas infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) untuk mengejar kebutuhan pengguna yang semakin meningkat.
General Manager PLN UID Jawa Timur Eric Rossi Priyo Nugroho mengatakan hingga saat ini terdapat sekitar 327 SPKLU yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Timur. Jumlah tersebut masih akan ditambah secara bertahap, seiring dengan semakin banyaknya pertumbuhan kendaraan listrik di wilayah tersebut.
“Penambahan ini merupakan salah satu komitmen kami, PLN, untuk melayani masyarakat. Tidak hanya memfasilitasi pengguna kendaraan listrik, akan tetapi juga menyediakan infrastrukturnya,” jelas Eric saat peresmian SPKLU di Kantor PLN UP3 Surabaya Barat, jalan Raya Taman, Sidoarjo, Kamis (1/10).
Ditambahkan, kebutuhan infrastruktur pengisian daya akan semakin penting seiring pergeseran masyarakat dari kendaraan berbahan bakar minyak menuju kendaraan listrik.
PLN mencatat konsumsi listrik untuk pengisian kendaraan listrik melalui SPKLU dan layanan home charging hingga Agustus 2026 mencapai sekitar 5,59 juta kWh. Angka tersebut tumbuh sekitar empat kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pertumbuhan konsumsi listrik tersebut, menjadi salah satu indikator meningkatnya aktivitas penggunaan kendaraan listrik di Jawa Timur.
“Kalau yang bisa kami monitor adalah SPKLU dan masyarakat yang mendaftarkan home charging. Untuk pemakaian energi listriknya dibandingkan tahun 2025 pada periode yang sama, kenaikannya kurang lebih 400 persen,” ujarnya.
Eric menjelaskan Surabaya dan kawasan sekitarnya menjadi salah satu wilayah dengan penggunaan kendaraan listrik yang cukup tinggi. Namun, pengguna SPKLU tidak hanya berasal dari kendaraan dengan nopol Surabaya.
Mobil listrik dari berbagai daerah juga memanfaatkan jaringan SPKLU di Jawa Timur, termasuk kendaraan milik mitra usaha yang melakukan perjalanan menuju wilayah lain seperti Bali.
PLN masih melihat adanya ruang untuk memperluas jaringan SPKLU. “Saat ini, rasio infrastruktur pengisian daya dengan jumlah mobil listrik di Jawa Timur berada di kisaran 1:18.
PLN menargetkan rasio tersebut secara bertahap dapat ditekan menjadi sekitar 1:10 hingga 1:12, mengikuti praktik di sejumlah negara dengan tingkat penggunaan kendaraan listrik yang lebih tinggi.”jelasnya.
Menurutnya, untuk mengejar target tersebut, PLN tidak hanya mengandalkan pembangunan SPKLU oleh perusahaan, tetapi juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai mitra.
Skema kerja sama dapat mencakup penyediaan lahan, sekaligus mesin pengisian daya, hingga pengelolaan yang mencakup aplikasi pendukung.
“Target kami memang menuju satu dibanding 10 atau satu dibanding 12. Tetapi ini bukan hanya komitmen PLN. Kami juga mengajak mitra untuk bersama-sama menambah infrastruktur,” ucap Eric.
Tahun 2026 ini, PLN UID Jawa Timur menargetkan penambahan sekitar 75 SPKLU. Sebagian tambahan infrastruktur tersebut berasal dari PLN, sementara pembangunan lainnya terbuka melalui kolaborasi dengan mitra.
Eric memperkirakan hingga akhir 2026 rasio SPKLU terhadap kendaraan listrik belum sepenuhnya mencapai 1:10 atau 1:12. Dengan tambahan infrastruktur yang berjalan, rasio tersebut diperkirakan berada di kisaran 1:15.
“Ditahun 2026 ini kami mendapat tambahan kurang lebih 63 atau 64 mesin lagi dari sisi PLN. Belum termasuk tambahan dari mitra,” jelas Eric.
SPKLU yang dikembangkan PLN juga tidak hanya menggunakan satu jenis teknologi pengisian. Infrastruktur tersebut disesuaikan dengan karakteristik kendaraan dan kebutuhan pengguna.
Di lokasi PLN UP3 Surabaya Barat, misalnya, tersedia tambahan mesin dengan kemampuan pengisian yang lebih cepat. Di sisi lain, charger dengan kapasitas pengisian standar tetap disediakan untuk pengguna yang ingin meninggalkan kendaraannya dalam waktu lebih lama.
Keberadaan charger AC juga dinilai masih diperlukan untuk melayani kendaraan listrik yang belum mendukung teknologi pengisian cepat berbasis arus DC.
“Masih ada yang menggunakan standar charging, misalnya untuk ditinggal atau untuk keperluan lain sambil berbelanja. Ada juga kendaraan yang teknologinya belum menggunakan charging DC,” jelas Eric.
PLN pun masih memantau pola penggunaan listrik dari kendaraan listrik sebelum menentukan kebutuhan pembangunan infrastruktur berikutnya.
Menurut Eric, pembangunan SPKLU pada 2027 nantinya akan mempertimbangkan data konsumsi energi, karakteristik pengguna, kebutuhan kapasitas pengisian, serta lokasi yang memiliki potensi permintaan tinggi.
“Kami masih melihat penggunaan energinya dan masukan dari para pengguna kendaraan listrik. Dari situ akan terlihat apa yang dibutuhkan, termasuk kapasitasnya,” ucapnya.
Dalam hal ini PLN berharap ekosistem kendaraan listrik di Jawa Timur semakin siap menopang perubahan pola mobilitas masyarakat. (rin)












