Radar-today |SIDOARJO – Komisi D DPRD kabupaten Sidoarjo adakan Kegiatan dengar pendapat (hearing) bersama pengurus KONI Sidoarjo. Giat kali ini meng evaluasi kinerja pengurus KONI yang terkait kegagalan dari porprof 2025 yang gagal mempertahankan runer up di Porprov tahun lalu. Hearing sempat ‘memanas’. Bahkan Ketua Komisi D Dhamroni Chudlori yang memimpin rapat hearing itu ‘meradang’. Hingga dia meninggalkan ruang rapat, setelah Imam Mukri, Ketua KONI bersikap tidak mau mengakui kegagalan prestasi kontingen Sidoarjo di ajang Porprov Jatim 2025.
Acara hearing digelar di ruang Paripurna DPRD, pada Senin (14/7) siang, sejak awal situasi sudah kelihatan kurang enak. Sejumlah anggota dan pimpinan Komisi D DPRD Sidoarjo mencerca berbagai pertanyaan soal kondisi pelaksanaan Porprov Jatim IX Tahun 2025 di Malang Raya.
Dhamroni Chudlori, yang memimpin rapat sempat mengulang beberapa kali pernyataannya bahwa sebagai wadah yang bertanggungjawab atas peningkatan prestasi atlet berbagai cabang olaharaga (cabor) di ajang Porprov Jatim, KONI Sidoarjo telah gagal. Dengan suntikan dana Rp 16,5 miliar, semestinya mampu mempertahankan runner up (juara 2), seperti yang diraih prestasi Sidoarjo di ajang Porprov sebelumnya.
Namun yang terjadi, kontingen Sidoarjo tahun ini prestasinya melorot di peringat tiga, di bawah Surabaya dan Malang. Ini dimungkinkan lantaran banyak masalah antara pengurus KONI dengan pengurus Cabor. “Mulai tanggungan uang hutang atau kasbon untuk operasional selama pertandingan hingga susahnya pengurus KONI dihubungi selama proses pertandingan di Porprov Jatim IX. Bahkan atlet dan Cabor mengaku seperti tidak punya orangtua selama pertandingan Porprov Jatim kemarin,” ujar Dhamroni.
Ia berharap dari rapat ini ada penjelasan dari ketua dan pengurus KONI yang gentlemen sesuai kondisi di lapangan selama Porprov kemarin.
“Saya minta evaluasi semua pengurus KONI karena telah gagal total. Hasilnya harus ada rekomendasi”ujarnya.
Selanjutnya rapat diserahkan kepada wakil ketua Komisi D, Bangun Winarso untuk memimpin rapat.
Bangun Winarso, mengatakan kegagalan atlet berprestasi ini karena perhatian KONI dan pemerintah daerah minim. “Kalau mau perang dan bertanding ya persiapan dulu bukan retorika. Kalau mau meraih medali emas harus disiapkan matang, terukur dan kemampuan atlet juga harus terukur,” jelasnya.
“Sekarang kami minta Cabor-Cabor yang tekor diselesaikan keuangannya asal tidak melanggar peraturan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum KONI Sidoarjo, Imam Mukri Efendi mengakui dirinya gagal memenuhi target, dan mempertahankan prestasi runner up dalam Porprov IX di Malang Raya. Semua masukan dalam acara hearing tentunya menjadi masukan sekaligus pertimbangan untuk meraih prestasi ke depan, Porprov Jatim ke X yang bakal dihelat Tahun 2027 mendatang. “Semua masukan pimpinan dan anggota dewan akan kami pertimbangkan untuk kebaikan dan prestasi atlet Sidoarjo ke depannya,” ujarnya. (rin)












